Kekecewaan di balik dapur MBG desa Cigondang UMKM Lokal terpinggirkan

Kekecewaan di balik dapur MBG desa Cigondang UMKM Lokal terpinggirkan

Pandeglang, bppkbnewsbanten - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah memiliki dua tujuan utama: meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mendorong perekonomian lokal melalui pelibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, di Desa Cigondang, Labuan, Kabupaten Pandeglang, muncul kekhawatiran dan kritik tajam terkait implementasi program ini, terutama mengenai minimnya partisipasi UMKM lokal dalam rantai pasok Dapur MBG.

Endang Golok, seorang warga Desa Cigondang, menyoroti dugaan tidak optimalnya pelibatan pelaku UMKM lokal dalam penyediaan bahan pangan untuk Dapur MBG di desanya. Kondisi ini bertolak belakang dengan semangat program MBG yang diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat dan UMKM di daerah tersebut.

Seharusnya, setiap dapur umum MBG melibatkan sekitar 15 pemasok lokal, mulai dari petani, peternak, hingga produsen bahan makanan olahan. Bahkan, Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan setiap dapur MBG menggandeng minimal 15 mitra lokal dan mengancam sanksi, termasuk penghentian operasional sementara, bagi Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) yang tidak memenuhi ketentuan tersebut. Kebijakan ini bertujuan untuk memperluas manfaat ekonomi program MBG bagi petani, peternak, UMKM, dan masyarakat sekitar. Kementerian UMKM sendiri menargetkan agar minimal 60% bahan baku setiap dapur MBG berasal dari produk UMKM lokal, dengan rencana peningkatan standar ini di masa mendatang.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi menyatakan, "Dalam Pasal 38 ayat 1 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025, penyelenggaraan MBG memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri dan pelibatan usaha mikro, usaha kecil, perseroan perorangan, koperasi, koperasi desa/kelurahan merah putih, dan BUMDesa."

Namun, situasi di Desa Cigondang justru menimbulkan pertanyaan. Selain isu pelibatan UMKM, Dapur MBG di Desa Cigondang juga pernah menjadi sorotan karena temuan makanan basi pada menu yang didistribusikan. Lokasi Dapur MBG di Kampung Karangsari, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, juga menuai kritik karena kondisi kebersihan yang buruk, seperti dinding yang bersebelahan langsung dengan rumah jagal ayam di sekitar area dapur.

Meskipun program MBG memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi lokal, kasus di Desa Cigondang menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan serius. Penting bagi pihak terkait untuk memastikan bahwa Dapur MBG tidak hanya memenuhi standar gizi dan kebersihan, tetapi juga secara aktif dan transparan melibatkan UMKM lokal sebagai bagian integral dari program ini. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa tujuan ganda program MBG dapat tercapai secara efektif dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi masyarakat. @red